InfoSemua

FENOMENA POST-POST MODERNISME SEBAGAI POLA HIDUP

Milenium selalu bergerak menuju hitungannya. Bagaikan sebuah peristiwa besar banyak dari kita beranjak mengelu-elukan kedatangannya, memberi bentangan karpet merah pada setiap jalan yang akan dilaluinya. Milenium adalah hitungan seperseribu tahun, atau tak beda dengan 0,001 tahun. Kita terhitung mulai memasuki milenium ketiga pada saat kalender menunjukkan tahun 2001.

Milenium merupakan perputaran waktu yang di dalamnya memuat berbagai realitas kehidupan, berbagai perkembangan budaya, dan lain-lain. Perubahan-perubahan yang terjadi telah memberikan kunci kepada kemajuan, tapi dengan sangat mengerikan juga memberikan kunci kepada kehancuran kita sebagai manusia yang “ada” (Descartes). Zaman ketika kita sibuk membentuk topeng (the mask) atau citra cermin (mirror image; Jacques Lacan) bagi penampilan luar, dan melupakan kedalaman yang terselubung di dalam diri (depth). Misalnya; kursus kepribadian, senam kebugaran (gym), salon kecantikan (glowing makeup). Zaman ketika hal-hal yang tabu kehilangan maknanya dan dipertontonkan untuk umum. Misalnya, kolom curhat pada mading-mading sekolah atau artikel-artikel remaja yang secara terbuka memaparkan hal-hal yang semestinya tetap indah dalam ketersembunyiannya.

Mirror image atau citra cermin merupakan fase perkembangan anak dalam psikoanalisis Lacan ketika ia pertama kali mengenal dirinya lewat cermin (sekitarnya). Yang dilihatnya tak lebih dari citraan atau penampakan semu dari diri yang sesungguhnya. Sekedar informasi, Jacques Lacan merupakan seorang psikoanalis postmodern berkebangsaan prancis yang mengembangkan teori psikoanalisis Sigmund Freud berbasis Semiologi. Lacan hidup sezaman dengan filsuf lain, seperti: Roland Barthes, Michel Foucault, dan Derrida.

Terkadang dalam masyarakat kontemporer kita berlomba-lomba mencari kepuasan, kebahagiaan pada hal-hal yang sebenarnya berfungsi sebagai terapi. Dunia nyata terlalu penuh dengan kebobrokan; penegak hukum yang menjajakan keadilan di bawah lampu merah, para pecinta yang terpojokkan oleh sedan-sedan mewah, dan lain sebagainya. Kita mencoba melarikan diri dari kesumpekan dunia nyata menuju dunia yang di dalamnya gairah, hawa nafsu bebas mewujudkan dirinya, dan hanya kepuasan tertinggi dari jiwa (ekstasi) yang mampu menjadi satu-satunya penawar bagi kemuakan kita ketika melihat dunia nyata.

Pelarian ini dilakukan dengan cara menghilangkan semua norma yang dapat membatasi/ menghalangi arah kepada kenikmatan puncak (ekstasi), misalnya; pertandingan sepak bola yang memakan banyak korban penontonnya dalam suatu perkelahian membela tim kesayangan mereka. Pertandingan sepak bola yang tujuan awalnya sebagai pengisi waktu luang menjadi sedemikian penting artinya bila dibandingkan dengan nyawa mereka sekalipun.

Dari setiap segi selama itu dijalankan secara terus-menerus akan mencapai titik puncaknya (ekstasi). Ekstasi adalah puncak kenikmatan ketika seseorang tidak dapat lagi mengenal dua kutub perbedaan, misalnya; moral dan amoral, bahkan ia mendambakan yang paling amoral dari yang amoral, misalnya; pesta seks yang dilakukan oleh remaja usia belasan tahun di daerah Tangerang beberapa waktu yang lalu. Ia mendambakan yang paling terselubung, misalnya; foto-foto seksi kaum selebritis di internet.

Contah lainnya dapat kita lihat dari kursus-kursus kebugaran yang banyak ditawarkan sekarang ini. Senam kebugaran berguna untuk membuat seseorang tampil lebih seksi. Pertanyaannya apa yang kita dapatkan setelah mampu tampil seksi? Pengakuan dari orang-orang bahwa kita memang seksi? Setelah itu, apalagi?

Dalam dunia mode pun tak ketinggalan. Mode saat ini sedang menjalani tamasya ke masa lalu; sendal-sendal hak tinggi, ikat pinggang wanita berwarna putih dan berukuran besar, dan lain-lain. Dunia mode telah kehabisan ide dalam menciptakan gaya-gaya baru. Karna itu, para perancang mengambil gaya-gaya masa lalu yang cenderung lebih mudah. Sayangnya, hanya gaya-gayanya saja yang diambil tidak diikuti dengan semangatnya. Hasilnya, yaitu penampakan masa lalu yang kosong tanpa makna apa-apa. Sebuah tubuh yang berjalan tanpa dirinya. Tubuh yang hanya menawarkan gairah, atau keterpesonaan semata.

Dunia yang kemudian muncul di hadapan kita merupakan dunia tanda-tanda. Tanda-tanda tersebut tampil memukau, penuh warna tapi miskin makna. Kemiskinan makna ini yang biasa disebut sebagai kenyataan semu, sebab tanda-tanda tidak membawa apa-apa selain dari rasa keterpesonaannya.

Internet pada era informasi ini tidak dipungkiri memang sangat dibutuhkan. Kemudahannya, kecepatannya terkadang mampu membuat kita terkagum-kagum. Namun, di balik itu, kemajuan tehnologi komputer justru menciptakan dunia baru yang semu; pembicaraan tidak lagi dilakukan dengan bertatap muka (chatting), jual-beli lewat internet telah membuat uang tidak lagi bersentuhan dengan realitas (e-commerce). Kita tidak lagi mengelilingi dunia, tapi dunia yang mendatangi kita lewat layar-layar komputer, di rumah-rumah. Cara bermasyarakat yang nyata telah digantikan oleh cara bermasyarakat yang semu. Masyarakat kontemporer lebih menikmati hubungan dengan benda-benda mati ketimbang sesamanya.

Akibat dari semua itu nilai-nilai spiritual semakin hilang. Memang, pada kenyatannya masih terlihat banyak orang memasuki rumah-rumah peribadatan, tapi kenyataan juga mengatakan bahwa banyak dari pelaku tindakan amoral berasal orang-orang yang baru saja keluar dari rumah-rumah peribadatan, atau mereka yang seharusnya memberi contoh moral yang baik, misalnya; kasus penjualan narkotika oleh guru SD (Seputar Indonesia : 1999).

Kehidupan masyarakat kontemporer tidak memberikan ruang bagi pengasahan spiritual malah menciptakan dunia spiritualitas baru yang semu; keasyikan seorang anak saat bermain video game. Permainan ini bukan lagi berfungsi sebagai pengasah kepekaan anak, tapi membangkitkan rasa keterpesonaan si anak yang kian hari kian mirip dengan realitas aslinya.

Dunia kontemporer saat ini sama artinya dengan ketiadaan; identitas diri yang lenyap akibat operasi plastik (koreanisme), make up. Identitas tersebut tidaklah nyata, sebab tampilannya hanya berupa topeng-topeng belaka. Juga dengan adanya ruang semu dalam cyberspace ketika kita dapat mengelilinginya sambil berlari-lari seolah-olah kita sedang mengitari sebuah stadion olah raga.

Milenium kedua yang telah berlalu meninggalkan banyak jejak pada kehidupan, kebudayaan, ataupun kebiasaan kita. Dengan nyata kita mampu melihat bekas tapak-tapak kakinya, tapi kita takkan pernah tahu mengapa hal-hal tersebut mesti muncul, dan apa gunanya. Dunia kontemporer merupakan dunia tanda-tanda tak bermakna. Yang dijadikan perangkap oleh kaum kapitalis untuk menjerat para konsumernya.

“Males, ah, jalan sama cowok murah! Mana, ya, cowok yang pakai kartu Simpati tadi?” Kutipan ini merupakan bunyi sebuah iklan di radio yang sering saya dengar di masa lalu dan sering membuat saya bertanya, apakah kehidupan ini memang telah menghambakan dirinya kepada materi? Keterpesonaan menjual keterpesonaan dengan cara yang mempesona bagi para konsumennya yang haus akan pesona.

Dunia kontempoerer kita hanya berputar pada satu lingkaran yang sama, dan bukan lagi bersifat menyebar atau berkembang menjadi hal yang sama sekali baru. Hampir semua hal merupakan pengulangan-pengulangan dari masa lalu; dalam dunia fashion (contohnya). Hampir semua kegiatan memperkecil ukuran atau jarak bumi ini; dalam dunia internet (contohnya). Hampir semua masyarakat kontemporer mengalami sesak nafas dalam memikirkan mode pakaian dalam lemari yang sudah ketinggalan zaman. Kemudahan yang didapat dalam dunia kontemporer ternyata juga menghasilkan suatu efek samping negatif yang teramat membahayakan.

Tulisan ini penulis buat ketika penulis masih duduk di bangku kuliah, tepatnya di awal tahun 2000. Fenomena AI yang sangat berkembang saat ini telah mengeluarkan percikan-percikannya sejak masa tersebut. Dan, nyata begitu menakjubkannya teknologi. Lalu, bagaimana kita kemudian turut serta di dalamnya? Pertanyaan yang harus kita temukan sendiri jawabannya dalam rangka menjadi manusia mumpuni yang mampu beradaptasi dengan berbagai situasi.

Herman

Sekretaris Majelis Didasmen dan PNF

PCM Kramat Jakarta

Related Articles

Check Also
Close

Team SPMB 2026-2027

SMA Muhammadiyah 1 Jakarta

Silmi
Silmi

Team Sukses 1

I am online

I am offline

Vikri
Vikri

Team Sukses 2

I am online

I am offline

error: Content is protected !!